Masyarakat Kota dengan Masyarakat Desa
Masyarakat adalah salah satu unsur yang harus dimiliki oleh sebuah negara. Sebuah wilayah tak bisa dikatakan sebagai negara bila tidak memiliki kedaulatan dan rakyat atau disebut juga dengan masyarakat.
Komunitas atau masyarakat perkotaan sering diidentikan dengan masyarakat modern (maju), dan tidak jarang pula dipertentangkan dengan masyarakat pedesaan, yang akrab pula dengan predikat masyarakat tradisonal manakala dilihat dari aspek kulturnya.
Spesifikasi masyarakat kota atau masyarakat maju itu antara lain sebgai berikut :
- hubungan antar anggota masyarakat nyaris bertumpu pada pertimbangan untuk kepentingan masing- masing pribadi warga kota tersebut,
- hubungan dengan masyarakat perkotaan lainnya berlangsung secara terbuka dan saling berinteraksi,
- mereka warga kota yakin bahwa iptek memiliki manfaat yang signifikan dalam meningkatkan kualitas kehidupan,
- masyarakat kota berdeferensiasi atas dasar perbedaan profesi dan keahlian sebagai fungsi pendidikan dan pelatihan,
- tingkat pendidikan masyarakat kota relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan,
- aturan-aturan atau hukum yang berlaku dalam masyarakat perkotaan lebih berorientasi pada aturan atau hukum formal yang bersifat kompleks, dan
- tatanan ekonomi yang berlangsung dalam masyarakat perkotaan umumnya
ekonomi-pasar yang berorientasi pada nilai uang, persaingan, dan nilai-nilai inovatif lainnya.
Masyarakat kota, atau urban community, sering menyandang predikat sebagai inovator, dan spesifikasi dari masyarakat ini antara lain,
- dalam bentuk hubungan sosial apapun, orientasi kepentingan pribadi lebih dominan,
- hubungan dengan masyarakat luar, atau lain terbuka, baik secara teritorial maupun secara kultural,
- mereka yakin bahwa iptek bermanfaat secara signifikan dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan,
- mereka berdeferensiasi atas dasar profesi dan keahlian sebagai fungsi pendidikan dan pelatihan,
- aturan-aturan yang berlaku berorientasi pada aturan atau hukum yang formal dan bersifat kompleks, dan
- tatanan ekonomi bertumpu pada ekonomi pasar dengan orientasi pada nilai-nilai uang, persaingan, dan nilai-nilai inovatif lainnya.
Masyarakat desa memiliki hubungan yang lebih erat dan lebih mendalam dibandingkan masyarakat kota. Biasanya mereka hidup berkelompok dan mayoritas bermata pencaharian petani. Rasa persatuan sangat kuat dan menimbulkan saling kenal mengenal dan saling tolong menolong atau gotong royong dalam segala hal. Alat komunikasi sangat kurang sehingga komunikasi yang berkembang cenderung sangat sederhana bahkan desas – desus, kasak – kusuk masih menjadi kebiasaan dan sangat cepat diterima oleh masyarakat, meskipun hal itu biasanya dilakukan pasa hal-hal yang mengarah negatif.
Perbedaan masyarakat kota dengan masyarakat desa adalah sebagai berikut:
- Masyarakat kota memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a) Terdapat spesialisasi dari variasi pekerjaan.
b) Penduduknya padat dan bersifat heterogen.
c) Norma-norma yang berlaku tidak terlalu mengikat.
d) Kurangnya kontrol sosial dari masyarakat karena sifat gotong royong mulai menrun.
b) Penduduknya padat dan bersifat heterogen.
c) Norma-norma yang berlaku tidak terlalu mengikat.
d) Kurangnya kontrol sosial dari masyarakat karena sifat gotong royong mulai menrun.
2. Masyarakat desa memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a) Jumlah penduduk tidak terlalu padat dan bersifat homogen.
b) Kontrol sosial masih tinggi.
c) Sifat gotong royong masih kuat; dan
d) Sifat kekeluargaannya masih ada.
Perbedaan masyarakat kota dengan masyarakat di desa, misalnya ketika membuat rumah di desa dilakukan dengan gotong royong sedang di kota pada umumnya dilakukan dengan membayar tukang. Hubungan sosial kemasyarakatan di desa dalam satu desa antara satu RT (Rukun Tetangga) atau RW (Rukun Warga) terjadi saling mengenal, sedangkan di kota sudah mulai hilang hubungan sosial kemasyarakatannya misalnya antara satu RT (Rukun Tetangga) dengan RT yang lainnya pada umumnya tidak saling mengenal.
Keadaan Pertolongan Persalinan di Desa
Bukan sesuatu hal yang rahasia lagi bahwa di desa persalinan seorang ibu dibantu oleh seorang dukun bayi. Hal ini dikarenakan daerah tersebut belum mendapat akses kesehatan yang baik. Mayoritas proses kelahiran didesa ditolong oleh dukun yang belum memiliki ilmu tentang kebidanan yang baik bahkan layak. Bahkan ketika seorang bidan atau tenaga medis masuk ke suatu desa dan mencoba membantu persalinan akan membuat masyarakat menjadi ragu dan takut untuk melahirkan dengan dibantu oleh seorang bidan. Hal tersebut terjadi karena rata-rata masyarakat tersebut telah percaya dan nyaman oleh dukun didaerah tersebut, bisa juga dikarenakan dukun didaerah tersebut telah dituakan sehingga masyarakat merasa segan bila dibantu oleh selain dukun tersebut. Persalinan dengan ditolong oleh dukun bukanlah hal yang dilarang namun jika penangannya tidak layak maka hal inilah yang dapt menimbulkan masalah bagi kesehatan ibu dan bayinya.
Banyak masalah yang dapat timbul dari persalinan yang dibantu oleh dukun.Data Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1992 rnenunjukkan bahwa 65% persalinan ditolong oleh dukun beranak. Beberapa penelitian yang pernah dilakukan mengungkapkan bahwa masih terdapat praktek-praktek persalinan oleh dukun yang dapat membahayakan si ibu. Penelitian pada tahun 1996 menunjukkan beberapa tindakan/praktek yang membawa resiko infeksi seperti "ngolesi" (membasahi vagina dengan minyak kelapa untuk memperlancar persalinan), "kodok" (memasukkan tangan ke dalam vagina dan uterus untuk rnengeluarkan placenta) atau "nyanda" (setelah persalinan, ibu duduk dengan posisi bersandar dan kaki diluruskan ke depan selama berjam-jam yang dapat menyebabkan perdarahan dan pembengkakan).
Pemilihan dukun beranak sebagai penolong persalinan pada dasarnya disebabkan karena beberapa alasan antara lain dikenal secara dekat, biaya murah, mengerti dan dapat membantu dalam upacara adat yang berkaitan dengan kelahiran anak serta merawat ibu dan bayi sampai 40 hari. Disamping itu juga masih adanya keterbatasan jangkauan pelayanan kesehatan yang ada. Walaupun sudah banyak dukun beranak yang dilatih, namun praktek-praktek tradisional tertentu rnasih dilakukan. Interaksi antara kondisi kesehatan ibu hamil dengan kemampuan penolong persalinan sangat menentukan hasil persalinan yaitu kematian atau bertahan hidup. Secara medis, penyebab klasik kematian ibu akibat melahirkan adalah perdarahan, infeksi dan eklamsia (keracunan kehamilan). Kondisi-kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu dalam proses persalinan. Namun, kefatalan ini sering terjadi tidak hanya karena penanganan yang kurang baik tetapi juga karena ada faktor keterlambatan pengambilan keputusan dalam keluarga. Umumnya, keputusan terhadap perawatan medis apa yang akan dipilih harus dengan persetujuan kerabat yang lebih tua atau keputusan berada di tangan suami yang seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi.
Kepanikan dan ketidaktahuan akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat. Tidak jarang pula nasehat-nasehat yang diberikan oleh teman atau tetangga mempengaruhi keputusan yang diambil. Keadaan ini seringkali pula diperberat oleh faktor geografis, dimana jarak rumah si ibu dengan tempat pelayanan kesehatan cukup jauh, tidak tersedianya transportasi, atau oleh faktor kendala ekonomi dimana ada anggapan bahwa membawa si ibu ke rumah sakit akan memakan biaya yang mahal. Selain dari faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan, faktor geografis dan kendala ekonomi, keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga oleh adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan. Selain pada masa hamil, pantangan-pantangan atau anjuran masih diberlakukan juga pada masa pasca persalinan. Pantangan ataupun anjuraan ini biasanya berkaitan dengan proses pemulihan kondisi fisik misalnya, ada makanan tertentu yang sebaiknya dikonsumsi untuk memperbanyak produksi ASI ada pula makanan tertentu yang dilarang karena dianggap dapat mempengaruhi kesehatan bayi. Secara tradisional, ada praktek-praktek yang dilakukan oleh dukun beranak untuk mengembalikan kondisi fisik dan kesehatan si ibu. Misalnya mengurut perut yang bertujuan untuk mengembalikan rahim ke posisi semula memasukkan ramuan-ramuan seperti daun-daunan kedalam vagina dengan maksud untuk membersihkan darah dan cairan yang keluar karena proses persalinan atau memberi jamu tertentu untuk memperkuat tubuh.
Keadaan Pertolongan Persalinan di Kota
Berbeda dengan di desa. Pertolongan persalinan dikota lebih terjamin dan tanggap. Hal ini terjadi karena tingkat pendidikan masyarakat kota lebih baik daripada masyarakat desa, akses kesehatan dikota juga mudah untuk dijangkau, tingkat ekonomi masyarakat kota juga lebih tinggi sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan yang harus dipenuhi. Hal ini yang membuat masyarakat kota melahirkan dengan pertolongan oleh tenaga medis seperti bidan dan dokter ahli kandungan.
Namun, tidak menutup kemungkinan ada pula masalah yang timbul pada masyarakat kota. Walaupun mungkin masalah yang timbul tidak sama seperti pada masyarakat desa. Masalah yang timbul pada masyarakat kota dalam konteks persalinan yaitu terjadi persalinan yang tidak normal dengan melalui operasi sesar, juga banyak ditemukan kasus aborsi. Tidak hanya pada saat persalinan, pada pasca persalinan pula dapat ditemukan banyak ibu yang tidak menyusui bayinya tetapi justru memberinya susu formula. Masalah-masalah tersebut timbul karena tingkat kesibukan para ibu di kota yang menjadi wanita karier, mereka juga lebih memilih sesuatu yang praktis dan dihantui rasa takut akan rasa sakit jika melahirkan secara normal juga kehilangan kecantikan fisik mereka jika harus menyusui bayinya. Tingginya tingkat aborsi juga terjadi dikota karena pergaulan dikota yang lebih bebas sehingga banyak terjadi sex bebas yang menyebabkan kehamilan diluar nikah dan takut untuk menanggung rasa malu sehingga mereka memilih untuk aborsi.
Referensi
http://mgmpips.wordpress.com/2007/03/06/masyarakat-kota-sebagai-inovator/
http://mbahrudisblog.blogspot.com/2009/01/masyarakat-desa-dan-masyarakat-kota.html
http://www.anneahira.com/ciri-ciri-masyarakat-kota.htm
http://brilianaputrimawaddah.blogspot.com/2010/10/perkembangan-terkini-pelayanan.html
http://ww2.yuwie.com/blog/entry.asp?id=952207&eid=608292
http://lensaprofesi.blogspot.com/2010/02/kesehatan-ibu-dan-anak-persepsi-budaya.html
0 komentar :
Posting Komentar